Berita Terbaru Religi Sifat iri hati sulit dijauhkan dari manusia. Kenapa bisa seperti itu ya?

Disebutkan para ulama sejak zaman dulu bahwa iri hati jadi salah satu lubang kelemahan manusia yang bisa mengurangi pahala. Iri hati bahkan jadi penyakit jiwa manusia yang dapat dialami siapa saja.

Iri hati adalah rasa tidak nyaman dengan sebuah kelebihan yang Allah berikan pada orang lain. Iri hati kerap terjadi ketika kelebihan orang lain itu dianggap ancaman atau saingan.

Pertanyaan yang kerap timbul di benak adalah kenapa manusia mengalami penyakit iri hati bahkan hasad atau dengki?

Director Jamaica Muslim Center NYC Imam Shamsi Ali menjelaskan ada beberapa penyebabnya yang bisa Anda pahami, antara lain :

 

Apa Saja Pemicu Timbulnya Sifat Iri Hati?

 

 

Tahu diri
Manusia harus ma’rifatun nafs (tahu diri). Ya, Anda harus punya kesadaran akan potensi atau kelebihan, sekaligus kekurangan-kekurangan diri sendiri. Tahu diri menyadarkan kita akan potensi sekaligus keterbatasan yang ada pada diri masing-masing.

Tidak memahami diri sendiri
Manusia ternyata mengalami kesulitan dalam memahami diri sendiri. Hal ini kemudian melahirkan kegagalan bersyukur. Orang yang gagal mensyukuri kelebihan yang Allah SWT karuniakan pada dirinya akan merasa tidak memiliki.

Pada akhirnya hanya mampu melihat kelebihan orang lain. Di sini ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Bisa bersikap positif dengan ikut bahagia dengan kebahagiaan orang lain. Atau menderita karena kebahagiaan (kelebihan) orang lain.

Muncul perasaan tidak mampu
Saat iri hati membayangi diri sendiri, tandanya bahwa seseorang punya perasaan tidak mampu. Banyak orang yang mengalami, namun tidak disadari.

Ada keinginan tertentu
Sebagaimana kata orang, biasanya ada udang di balik batu. Iri hati biasa terjadi karena ada keinginan tertentu. Keinginan tersebut bisa saja terhambat. Tapi karena melihat orang lain mampu menjalaninya, Anda akan merasa terancam atau terhalangi.

Kegagalan menerima qadar
Tak sedikit manusia merasa gagal saat menerima qadar. Karenanya ketika Allah memberikan sesuatu yang kita anggap kelebihan pada orang lain, sejatinya Allah juga menberikan kelebihan pada diri kita dalam hal dan bentuk yang lain.

Hasad atau dengki menghabiskan kebaikan-kebaikan bagaikan api yang melahap kayu bakar. Api itu panas dan memanaskan lingkungan sekitarnya. Persis hasad itu panas dan menjadikan dia yang berpenyakit hasad gerah, takkan merasakan ketenangan hidup.

“Qul-a’uudzu bi Rabbil falaq…..wa min syarri haasidin idza hasada”. Amin!

Semoga artikel ini bermanfaat untukmu ya !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *