Berita Terbaru Religi Berbakti terhadap kedua orangtua adalah kewajiban setiap anak, sebab di dalamnya juga terdapat ridha Allah Subhanahu wa ta’ala. Salah satu bentuk bakti kepada orangtua adalah dengan memberikan uang atau harta yang dimiliki.

“Berbicara dengan mereka dengan dengan akhlak terbaik, memperlakukan mereka dengan dengan curahan cinta, memberikan mereka dari yang paling baik, hadir sebagai anak yang paling sabar terhadap keduanya, walaupun semua itu tidak akan pernah sebanding dengan ketulusan kedua orangtua kita,” ujar Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani) Ustadz Ainul Yaqin .

Ustadz Ainul mengatakan, memuliakan orangtua pahalanya sangat besar. Serta ada beberapa keutamaan ketika anak berbakti kepada orangtuanya, yaitu antara lain:

 

Cara Terbaik Dalam Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

 

Pertama, jika Ingin sukses dan kaya raya jadikan orangtua sebagai raja. Berikan mereka harta, uang, dan kehormatan. Hal ini dikarenakan sebagai tanda bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَيَنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (Hadits Riwayat Bukhari 7/72, Muslim 2557, Abu Dawud 1693)

“Allah janjikan balasan yang lebih baik, rezeki lebih baik, melimpah, berikut umur panjang yang berkah dalam ibadah,” terangnya.

 

Kedua, cari ridha Allah Subhanahu wa ta’la dengan memuliakan kedua orangtua.

“Banyak anak kesusahan sebab membuat orangtuanya susah. Jika ingin dimudahkan Allah, buat orangtuamu cinta dan ridha kepadamu, sebab doa orangtua adalah mustajabah,” ujarnya.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)

Artinya: Dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi Shalallahu alaihi wassalam telah bersabda: “ Keridhaan Allah itu terletak pada keridhaan orangtua, dan murka Allah itu terletak pada murka orangtua”. (HR. Tirmidzi)

 

Ketiga, jangan pernah melupakan waktu dengan orangtua. Misalnya karena terlalu sibuk bekerja, kita malah lupa memberi kabar kepada keluarga khususnya kedua orangtua.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رَغِمَ اَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ اَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ اَنْفُ قِيْلَ: مَنْ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ اَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِاَحَدُهُمَااَوْكِلَيْهِمَافَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ (رواه مسلم)

Artinya: “Dari Nabi Shalallahu alaihi wassalam sabdanya: Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka! Lalu beliau ditanya orang, siapakah yang celaka, ya Rasulullah? Jawab Nabi SAW, Siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan merawat orang tuanya sebaik-baiknya).” (HR. Muslim)

 

Keempat, raihlah kesuksesan dunia dan akhirat melalui berbakti kepada, orangtua, karena mereka adalah pintu surga terbaik dan terindah. “Tinggal bagaimana kita menjaga pintu itu tetap terbuka untuk kita dengan bakti kita kepada mereka berdua,” tutur Ustadz Ainul.

Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalambersabda:

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

Artinya: “Orangtua adalah pintu surga yang paling baik. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya” (HR. Tirmidzi).

Kemudian dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jâmi’ at-Tirmidzi, Al-Qadhi menjelaskan:

أَيْ خَيْرُ الْأَبْوَابِ وَأَعْلَاهَا وَالْمَعْنَى أَنَّ أَحْسَنَ مَا يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى دُخُوْلِ الْجَنَّةِ وَيُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى وُصُوْلِ دَرَجَتِهَا الْعَالِيَةِ مُطَاوَعَةُ الْوَالِدِ وَمُرَاعَاةُ جَانِبِهِ

Artinya: “Yang dimaksud dari awsath al-bâb adalah sebaik-baiknya pintu dan paling mulianya pintu. Maknanya adalah, sesungguhnya sebaik-baiknya pintu yang menjadi wasilah masuknya seseorang ke dalam surga, juga menjadi wasilah bagi ia untuk mendapatkan derajat yang tinggi ialah dengan mentaati orang tua dan merawat di sisihnya” (Imam al-Mubarâkfûri, Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jâmi’ at-Tirmidzi, juz 4, hal. 522).

Semoga artikel ini bermanfaat untukmu ya !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *