Berita Terbaru Religi Sebentar lagi kita akan menyambut Hari Raya Idul Adha. Nyatanya ibadah kurban sudah ada sejak zaman Nabi Adam Alaihissalam dan secara turun temurun diwariskan kepada umat manusia, termasuk umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Esensinya sama, sebagai bentuk kepatuhan hamba, hanya bentuknya yang berbeda. Ada hikmah besar di balik ibadah kurban.

Kurban untuk umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam disyariatkan setahun sekali berupa menyembelih hewan ternak saat Idul Adha dan hari tasrik, dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Hukum berkurban bagi Muslim yang berpegangan pada mazhab Imam Asy-Asyafi’i adalah sunnah muakkadah, artinya ibadah sunah yang sangat dianjurkan untuk melakukannya.

Ironisnya, terkadang ibadah kurban seakan menjadi prioritas terakhir ketika memiliki kelebihan harta. Padahal jika diakumulasikan dengan kebiasaan belanja barang-barang sekunder yang ditotal hingga satu tahun, maka sudah cukup untuk berkurban.

KH Ahmad Jamil, pimpinan Direktorat Pendidikan Daarul Qur’an, mengatakan bahwa jika seseorang perokok mampu mengeluarkan Rp20 ribu per hari untuk membeli rokok, maka seharusnya sudah mampu berkurban, bukan malah ketagihan merokok.

Ibadah kurban memang bukan seperti ibadah puasa Ramadhan yang dihukumi wajib. Akan tetapi jika mengetahui hikmah di balik berkurban, seharusnya setiap Muslim memiliki semangat yang tinggi, terlebih lagi pelaksanaannya hanya satu tahun sekali.

 

Keutamaan Ibadah Kurban Dalam Islam

 

“Hikmah disyariatnya kurban adalah tumbuhnya kecintaan menghidupkan sunah, artinya kita mengikuti ajaran Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam,” jelas KH Ahmad Jamil.

Ia melanjutkan, hikmah pertama yang dapat diambil dari syariat kurban adalah kesabaran. Sebab, belajar kesabaran dari Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Ismail Alaihissalam. Bagaimana mereka mengikuti dan taat kepada perintah Allah Subhanahu wa ta’ala.

“Nabi Ibrahim Alaihissalam lama meminta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala untuk bisa mendapatkan anak, dan kemudian Allah Taa’ala mengasih yaitu Nabi Ismail Alaihissalam, dan itu Allah Ta’ala minta lagi, karena Allah Ta’ala mau beri tahu kalau kecintaan Beliau kepada Nabi Ismail Alaihissalam jangan sampai melebihi kecintaan kepada Allah Ta’ala. Ini bukti kecintaan kepada Allah Ta’ala, cinta betul,” ungkapnya.

Kemudian KH Ahmad Jamil menjelaskan bahwa hikmah silaturahim juga dapat dipetik dari praktik kurban. Artinya, terjalin tali silaturahim dengan keluarga, saudara, tetangga, sahabat, dan juga antara orang kaya dan miskin, kalangan mampu dan kurang mampu.

Jika silaturahim telah terjalin maka kehidupan sosial seseorang akan lebih baik karena merasa hidup dengan orang lain. Di antaranya keluarga, sahabat, dan lain sebagainya.

Terakhir, hikmah puncak dari syariat kurban adalah bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebab, Allah Ta’ala yang telah memberikan hidup kepada setiap makhluk tanpa memberi bandrol harga pada tiap kenikmatannya. Oleh karena itu, kurban juga merupakan wujud syukur seorang hamba kepada Allah Ta’ala.

Sementara Muhammad Insan Nurrohman, executive vice president ACT, menyatakan ada nilai ekonomis untuk umat di balik ibadah kurban. Terutama pada masa pandemi seperti ini, di mana orang-orang banyak yang kehilangan pekerjaan.

“Ada manfaat ekonomi yang besar sekali yang dapat kita raih dari ibadah ini. Kita melibatkan ratusan bahkan ribuan peternak yang sangat berharap sekali dalam situasi covid-19 ini. Karena mereka sempat khawatir apakah hewan ternaknya dapat dibeli para pekurban. Oleh karena itu, manfaat ekonomi (dari kurban) adalah membuka lapangan pekerjaan bagi ribuan bahkan jutaan peternak,” paparnya.

Semoga artikel ini bermanfaat untukmu ya !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *